CERITA (NOMADEN)

Ada dua tipe nomaden modern ini. Tipe pertama adalah mereka yang setiap lembar diary mereka tertulis nama negara yang berbeda. Mereka adalah orang-orang super sibuk, dan tentunya super kaya, yang perusahaannya terbentang dari Maroko sampai Merauke, membuat mereka berada di negara berbeda setiap membuka mata. Sejumlah perusahaan jasa, terutama bank, menyesuaikan diri dan menawarkan jasa yang sesuai dengan kecepatan perpindahan mereka.Yang kedua adalah kelompok yang jauh lebih santai, seperti cerita teman saya di tulisan sebelumnya. Mereka tidak mesti orang yang memiliki uang berlebih, tapi cukup untuk hidup tanpa banyak bekerja di sebuah negara eksotis dan mencari pencerahan. Terkadang mereka bekerja serabutan agar napas lebih panjang.

Mereka tidak datang ke negeri-negeri Timur untuk melihat matahari tenggelam dari jendela kamar mewah Four Seasons. Mereka datang untuk “menjadi” Timur. Menyewa kamar atau rumah di perkampungan, makan makanan tradisional yang tidak higienis, dan hidup cukup lama di suatu tempat yang jaraknya beribu mil dari rumah asli mereka. Kalau membawa anak, mereka tidak disekolahkan di sekolah internasional, tapi di sekolah lokal.

Kelompok kedua inilah yang merupakan para penduduk global sebenarnya. Mereka ada di mana-mana dan memberi pengaruh pada budaya lokal. Meski menurunkan dua atau tiga tulisan soal kelompok kedua ini, namun Newsweek tidak meliput bagaimana pengaruh mereka dalam budaya lokal.

Ketika bicara soal style, seni, dan mode yang terpengaruh oleh para nomaden, Newsweek sepertinya malas meliput lebih dalam kegiatan para nomaden ini. Newsweek hanya menampilkan para desainer atau seniman lokal yang memiliki kans untuk mendunia. Ada yang terputus antara tulisan utama dengan budaya yang tumbuh dari diaspora ini.

Sebenarnya, tak sulit mencarinya. Kalau ke Bali saja, kita akan menemukan banyak seniman atau fashion designer asing yang menetap di Bali, mengembangkan sendiri style mereka, mencampurkan antara gaya modern dengan tradisional, dan memberi pengaruh pada desain lokal. Butik-butik mereka bisa kita lihat berjajar di Seminyak. “Style yang merka kembangkan adalah yang bernuansa pesta,” kata seorang stylist asli Jakarta yang kini menetap di Bali.

Untuk seni juga sama. Kita bisa melihat banyak seniman internasional di Bali yang hidup seadanya untuk mencecap aura seni di pulau itu dan mengemasnya dengan kemasan internasional. “Tapi ekspatriat yang seperti ini sudah mulai jarang sejak Bom Bali I,” kata seorang teman lain yang tinggal di Bali dan bergaul dengan para seniman. Menurutnya, bule-bule yang tinggal di Bali sekarang lebih banyak yang hanya ingin berpesta, seperti layaknya di Thailand. “Aura seninya sudah mulai luntur.”


 
Saya bertemu pertama kali dengannya di sebuah terminal bus kota yang kumuh di Kairo pada sebuah siang yang dingin. Tak jauh dari terminal itu sungai Nil bergerak malas, membawa beban yang berat dari selatan. Biasanya tak banyak orang yang berani keluar di saat seperti itu. Angin dingin terlalu menusuk. Tapi siang itu terminal bus yang pesing itu tetap ramai.

Meski tenggelam dalam kerumunan, namun tak sulit melihat kehadirannya. Dandanannya cukup menarik perhatian dan mudah diingat. Ia tampil mirip jagoan dalam film-film John Woo dalam gerak lambat. Muka Asianya yang keras berkarakter ditumbuhi sedikit jenggot. Rambutnya yang panjang berkibar oleh angin utara. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dibalut oleh syal kelabu dan mantel sepanjang lutut yang juga berkibar-kibar.

Saya bersyukur dapat mengenalnya. Ia adalah makhluk global pertama yang saya kenal dengan baik. Lahir di Sunda, kini menjadi warga negara Jerman, berisiterikan orang Eropa, dan tak pernah diam di satu tempat. Bukan hanya berkeliling untuk mengunjungi jaringan penjualan peralatan olahraga air dan sekian sekolah surfingya di sepanjang pantai-pantai Eropa, tapi juga untuk kepentingan yang lain. “Terbangun di sebuah hotel di Belanda, saya sudah memesan sebuah meja di restoran di Paris untuk makan malam,” katanya tnpa bermaksud pamer.

Umurnya sekitar 45-50 tahun. Tak pasti juga, karena saya tak pernah bertanya. Dan ia tidak sedang mengalami mid-life-crisis saat meninggalkan segala kemewahan itu dan menetap di sebuah perkampungan kumuh di Kairo selama beberapa bulan untuk mendalami agama. Secara berkala ia juga pergi ke negeri-negeri Balkan untuk menyalurkan sendiri bantuan kemanusiaan.

Kisah-kisah yang mirip seperti itu kembali saya baca dalam Newsweek terbaru (15 Mei 2006), dalam laporan utamanya berjudul The New Jet Set: Rootless Travelers or Citizens of the World. Ini adalah kisah gaya hidup orang kaya baru yang tidak lagi mengakar pada satu tempat, tapi hidup nomaden di banyak tempat.

Kalimat pembuka (lead) tulisan utamanya menarik: “Zaman dahulu kala, menjadi kaya berarti mengakar. Keluarga kaya membangun rumah gergasi di kota, dan rumah kedua di pedesaan, menyesaki keduanya dengan karya seni, bahan, dan perhiasan mahal, serta tentu saja sejumlah pembantu. Mereka menjadi anggota klub lokal terbaik, restoran termewah, dan mendukung orkes simfoni dan museum lokal. Jika itu diartikan sebagai cara untuk mengirim suatu pesan, maka pesan itu adalah mereka telah berabad di tempat ini. Melompat ke 2006. Kaya adalah bergerak. Mereka masih hidup sejahtera, tentu saja, tapi mereka juga berada di banyak tempat, sekeliling dunia… Jika kaya lama disimbolkan oleh kestabilan, maka kaya baru oleh pergerakan. Selamat datang di jet set—frase lama tapi lebih cocok dipakai di dunia yang baru ini.”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: